Jepang memulai pembuangan air olahan reaktor Fukushima putaran ke-23 pada Senin, 1 September 2026 pukul 11.29 waktu setempat [[3]]. Sebanyak sekitar 7.800 ton air yang telah diolah dengan kandungan tritium sekitar 1,2 triliun Becquerel akan dibuang ke Samudra Pasifik secara bertahap hingga sekitar 18 September 2026 [[1]]. Operasi ini merupakan putaran kelima dalam tahun fiskal 2026 dan putaran ke-23 sejak pembuangan air olahan dimulai pada Agustus 2023 [[3]].

Proses Pembuangan dan Pengenceran

Tokyo Electric Power Company (TEPCO) melakukan pembuangan air olahan ini dengan metode pengenceran sebelum dilepaskan ke laut. Air yang telah diolah menggunakan sistem ALPS (Advanced Liquid Processing System) ini masih mengandung tritium, isotop radioaktif hidrogen yang tidak dapat dihilangkan melalui proses pengolahan [[12]]. Namun, konsentrasi tritium telah diencerkan hingga jauh di bawah batas operasional yang ditetapkan Jepang, yaitu sekitar 1.500 Becquerel per liter, yang masih 40 kali lebih rendah dari standar yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk air minum.

Total Volume dan Jadwal Pembuangan

Hingga putaran ke-23 ini, Jepang telah membuang sekitar 173.000 meter kubik air olahan ALPS sejak program discharge dimulai pada Agustus 2023 [[16]]. Untuk tahun fiskal 2026, TEPCO merencanakan total pembuangan 62.400 ton air yang akan dilakukan dalam delapan putaran [[14]]. Setiap putaran biasanya berlangsung selama 17-18 hari dengan volume sekitar 7.800 ton per batch.

Pemantauan dan Pengawasan IAEA

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terus melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap proses pembuangan air olahan Fukushima ini. Staf IAEA yang hadir di lokasi memastikan bahwa seluruh proses discharge berlangsung sesuai dengan standar keselamatan internasional [[13]]. Dalam laporan terbarunya, IAEA mengkonfirmasi bahwa tingkat tritium di air yang dibuang jauh di bawah batas operasional Jepang dan tidak terdeteksi peningkatan tingkat tritium di perairan sekitar [[16]].

Alasan Pembuangan dan Kontroversi

Pemerintah Jepang dan TEPCO menyatakan bahwa pembuangan air olahan ini tidak dapat dihindari karena tangki penyimpanan air limbah di lokasi pembangkit akan mencapai kapasitas penuh pada tahun 2027 [[20]]. Sejak bencana gempa dan tsunami pada Maret 2011, air terus digunakan untuk mendinginkan reaktor yang rusak, menghasilkan ribuan ton air limbah yang terkontaminasi setiap harinya. Namun, keputusan ini tetap menuai kontroversi dan penentangan dari negara-negara tetangga, terutama China dan Korea Selatan, serta kelompok nelayan lokal yang khawatir akan dampak terhadap reputasi produk perikanan.

Dampak Lingkungan dan Keamanan

Meskipun Jepang dan IAEA menegaskan bahwa pembuangan ini aman secara ilmiah, kekhawatiran publik tetap tinggi. Para ilmuwan menjelaskan bahwa tritium memiliki tingkat radiasi yang relatif rendah dan akan terencerkan lebih lanjut di lautan yang luas [[12]]. Hingga putaran keempat pada Maret 2024, tidak ada peningkatan tingkat tritium yang terdeteksi di perairan sekitar lokasi pembuangan [[10]]. Namun, transparansi data dan pemantauan independen terus menjadi tuntutan dari berbagai pihak untuk memastikan keamanan jangka panjang.

Respons Internasional dan Regional

Respons terhadap pembuangan air Fukushima sangat beragam. Sementara beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa mendukung keputusan Jepang yang dinilai berbasis ilmiah, negara-negara Asia Timur seperti China dan Korea Selatan menunjukkan penentangan yang kuat. China bahkan sempat memberlakukan larangan impor produk perikanan dari Jepang sebagai bentuk protes. Di sisi lain, kelompok lingkungan dan nelayan lokal di Fukushima terus menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap dampak ekonomi dan ekologis jangka panjang.

Sumber Referensi:
https://www.nippon.com/en/news/yjj2026083100562/
https://www.iaea.org/newscenter/pressreleases/tritium-level-far-below-japans-operational-limit-in-23rd-batch-of-alps-treated-water-iaea-confirms